Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net

Pengantar Kepala Museum Nasional


Museum Nasional sebagai sebuah lembaga studi warisan budaya dan pusat informasi edukatif kultural dan rekreatif, mempunyai kewajiban menyelamatkan dan melestarikan benda warisan budaya bangsa Indonesia. Hingga saat ini koleksi yang dikelola berjumlah 141.899 benda, terdiri atas tujuh jenis koleksi yaitu prasejarah, arkeologi, keramik, numismatik-heraldik, sejarah, etnografi, dan geografi.

Penyelamatan dan pelestarian budaya ini pada hakikatnya ditujukan untuk kepentingan masyarakat, diinformasikan melalui pameran dan penerbitan-penerbitan katalog, brosur, audio visual juga website. Tujuannya agar masyarakat tahu dan ikut berpartisipasi dalam pelestarian warisan budaya bangsa.

Mengenai pameran, sistem penataan pameran di gedung lama (Unit A) berdasarkan pada jenis-jenis koleksi, baik berdasarkan keilmuan, bahan, maupun kedaerahan. Misalnya Ruang pameran Prasejarah, Ruang Perunggu, Ruang Tekstil, Ruang Etnografi daerah Sumatera, dan lain-lain. Sedangkan penataan pameran di gedung baru (Unit B atau Gedung Arca) tidak lagi berdasarkan jenis koleksi, melainkan mengarah kepada tema berdasarkan aspek-aspek kebudayaan yang memosisikan manusia sebagai pelaku dalam lingkungan tempat tinggalnya. Tema pameran yang berjudul “Keanekaragaman Budaya dalam Kesatuan” ini terdiri atas beberapa subtema antara lain [1] Manusia dan Lingkungan, [2] Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Ekonomi, [3] Organisasi Sosial dan Pola Pemukiman, dan [4] Khasanah dan Keramik.

Gedung Unit C direncanakan akan dibangun untuk memperluas tata pameran yang sudah ada dan untuk melengkapi subtema terakhir yaitu [5] Religi dan Kesenian. Hanya doa restu dan dukungan dari berbagai pihak (pemerhati museum, akademisi, pengunjung) yang kami harapkan agar pembangunan gedung selanjutnya dapat terlaksana. Terima kasih.

Kepala Museum Nasional

Dra. Retno Sulistianingsih Sitowati, MM

Sejarah dan Informasi Museum Nasional





Sejarah Museum Nasional

Museum Nasional berawal dari pendirian suatu himpunan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BG), oleh Pemerintah Hindia Belanda pada 24 April 1778. Pada masa itu di Eropa tengah terjadi revolusi intelektual (the Age of Enlightenment) yang ditandai perkembangan pemikiran-pemikiran ilmiah dan ilmu pengetahuan. Pada 1752 di Haarlem, Belanda berdiri De Hollandsche Maatschappij der Wetenschappen (Perkumpulan Ilmiah Belanda). Hal ini mendorong orang-orang Belanda di Batavia (Indonesia) untuk mendirikan organisasi sejenis.

BG merupakan lembaga independen, untuk tujuan memajukan penetitian dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang-bidang ilmu biologi, fisika, arkeologi, kesusastraan, etnologi, dan sejarah. Selain itu BG menerbitkan berbagai hasil penelitian. Lembaga ini mempunyai semboyan "Ten Nutte van het Algemeen" (Untuk Kepentingan Masyarakat Umum).

Salah seorang pendiri lembaga ini, JCM Radermacher, menyumbangkan sebuah rumah miliknya di Jalan Kalibesar, suatu kawasan perdagangan di Jakarta-Kota. Dia juga menyumbangkan sejumlah koleksi benda budaya dan buku yang amat berguna. Sumbangan Radermacher inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya museum dan perpustakaan.



Selama masa pemerintahan Inggris di Jawa (1811-1816), Letnan Gubernur Sir Thomas Stamford Raffles menjadi direktur perkumpulan ini. Oleh karena rumah di Kalibesar sudah penuh dengan koleksi, Raffles memerintahkan pembangunan gedung baru untuk digunakan sebagai museum dan ruang pertemuan untuk Literary Society (dulu disebut gedung "Societeit de Harmonie"). Bangunan ini berlokasi di Jalan Majapahit nomor 3. Sekarang di tempat ini berdiri kompleks gedung Sekretariat Negara, di dekat Istana Kepresidenan.

Jumlah koleksi milik BG terus neningkat hingga museum di Jalan Majapahit tidak dapat lagi menampung koleksinya. Pada 1862 pemerintah Hindia-Belanda memutuskan untuk membangun sebuah gedung museum baru di lokasi yang sekarang, yaitu Jalan Medan Merdeka Barat No. 12 (dulu disebut Koningsplein West). Tanahnya meliputi area yang kemudian di atasnya dibangun gedung Rechst Hogeschool atau "Sekolah Tinggi Hukum" (pernah dipakai untuk markas Kenpetai di masa pendudukan Jepang, sekarang Kementerian Pertahanan dan Keamanan). Gedung museum ini dibuka untuk umum pada 1868.

Museum ini sangat dikenal di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya penduduk Jakarta. Mereka menyebutnya "Gedung Gajah" atau "Museum Gajah" karena di halaman depan museum terdapat sebuah patung gajah perunggu hadiah dari Raja Chulalongkorn (Rama V) dari Thailand yang pernah berkunjung ke museum pada 1871. Kadang kala disebut juga "Gedung Arca" karena di dalam gedung memang banyak tersimpan berbagai jenis dan bentuk arca yang berasal dari berbagai periode sejarah.

Pada 1923 perkumpulan ini memperoleh gelar "koninklijk" karena jasanya dalam bidang ilmiah dan proyek pemerintah sehingga lengkapnya menjadi Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (KBG). Pada 26 Januari 1950 KBG diubah namanya menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia. Perubahan ini disesuaikan dengan kondisi waktu itu, sebagaimana tercermin dalam semboyan barunya: "memajukan ilmu-ilmu kebudayaan yang berfaedah untuk meningkatkan pengetahuan tentang kepulauan Indonesia dan negeri-negeri sekitarnya".

Mengingat pentingnya museum ini bagi bangsa Indonesia maka pada 17 September 1962 Lembaga Kebudayaan Indonesia menyerahkan pengelolaan museum kepada pemerintah Indonesia, yang kemudian menjadi Museum Pusat. Akhirnya, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, No.092/0/1979 tertanggal 28 Mei 1979, Museum Pusat ditingkatkan statusnya menjadi Museum Nasional.

Kini Museum Nasional bernaung di bawah Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Museum Nasional mempunyai visi yang mengacu kepada visi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, yaitu "Terwujudnya Museum Nasional sebagai pusat informasi budaya dan pariwisata yang mampu mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan peradaban dan kebanggaan terhadap kebudayaan nasional, serta memperkokoh persatuan dan persahabatan antarbangsa".


Alamat

Jalan Medan Merdeka Barat 12, Jakarta 10110
Telepon +62 21 386-8172

Jam Buka
Selasa - Kamis08.30 - 14.30
Jumat08.30 - 11.30
Sabtu08.30 - 13.30
Minggu08.30 - 14.30
Senin & Hari Libur NasionalTutup


Karcis Masuk
DewasaRp 5000 (Perorangan)
Rp 3000 (Rombongan)
Anak-anakRp 2000 (Perorangan)
Rp 1000 (Rombongan)
TurisRp 10.000


Koleksi Museum Nasional



Peta Lokasi Museum Nasional

Jumat, 22 Mei 2009

Koleksi Etnografi


Koleksi etnografi Museum Nasional menyajikan benda-benda atau hasil budaya dari suku-suku bangsa di seluruh Indonesia. Indonesia memiliki lebih dari 300 suku bangsa yang memiliki bahasa dan kebudayaan yang berbeda-beda. Semboyan "Bhineka Tunggat Ika" mencerminkan kondisi masyarakat Indonesia yang bersifat majemuk atau multikultural. Benda-benda etnografis itu berupa peralatan hidup yang digunakan oleh suatu suku bangsa baik yang dipakai untuk kepertuan upacara maupun sehari-hari. Koleksi etnografi menunjukkan pengaruh berbagai kebudayaan pada masa Hindu, Islam, dan masa kolonial yang disesuaikan dengan kebudayaan setempat.

Penyajian koleksi didasarkan pada pengelompokan regional atau geografis yang memberikan gambaran tentang kebudayaan dari tiap-tiap suku bangsa di Indonesia. Untuk menggambarkan keanekaragaman budaya dari Sabang sampai Merauke, ruang pameran etnografi dibagi menjadi tiga ruang. Bagian paling depan diawali dengan koleksi peta kelompok etnis dan bahasa dari berbagai suku bangsa menyajikan koleksi dari wilayah Indonesia bagian barat yaitu dari Pulau Sumatera dan Jawa. Di bagian tengah ruang pamer terdapat koleksi dari pulau Bali, Kalimantan dan Sulawesi. Sementara di bagian belakang disajikan koleksi wilayah Indonesia timur, yaitu dari keputauan Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.

Sebagian besar koleksi etnografi dikumpulkan pada masa pemerintahan kolonial Belanda terutama pada pertengahan abad ke-19 dan awal abad ke-20 Masehi. Pengumpulan koleksi antara lain dilakukan melalui kegiatan ekspedisi ilimiah, ekspedisi militer, atau oleh perorangan seperti dari para pejabat pemerintah dan para penyebar agama Selain ruang tersebut, koleksi etnografi juga mempunyai ruang pamer khusus, yaitu ruang miniatur rumah adat, ruang tekstil, dan ruang khasanah emas etnografi.

Ruang miniatur rumah adat memamerkan berbagai model rumah adat dari berbagai suku bangsa di Indonesia. Pada umumnya rumah-rumah tradisional pada suku-suku bangsa di Indonesia berbentuk rumah panggung yang disesuaikan dengan adat-istiadat dan lingkungan alam mereka. Ruang tekstil menampilkan berbagai koleksi tekstil yang berasal dari seluruh wilayah nusantara. Indonesia memiliki kekayaan tekstil tradisional yang membanggakan dan koleksi Museum Nasional menggambarkan hal ini.

Dalam masyarakat Indonesia, tekstil tidak hanya berfungsi sebagai pakaian tetapi juga mempunyai fungsi simbolis yang mempunyai arti secara sosiak dan religius yang dipakai untuk upacara-upacara tertentu.


Mahkota Siak

Emas, mirah, berlian;
Siak Sri Indrapura;
No.Inv. E26.

Mahkota ini berasal dari keluarga kesultanan Siak Sri Indrapura di Riau. Dibuat dari emas dan dihiasi permata berlian dan mirah, bermotif filigri dengan berbagai teknik. Setelah kemerdekaan Indonesia tahun 1945, Sultan Syarif Kasim II menyatakan kedaulatannya dan tunduk kepada pemerintah RI dan memberikan mahkotanya kepada pemerintah RI untuk kemudian diserahkan dan dipamerkan di Museum Nasional.


Hiasan Perahu Kora

Kayu, kerang;
Kepulauan Tanimbar;
No.Inv. 14308.

Hiasan ujung perahu Kora dari kepulauan Tanimbar berbentuk seperti kerucut yang menyerupai layar perahu, salah satu sisinya dihiasi dengan kulit kerang putih. Pada bagian atau bidang yang kosong dihiasi dengan ukiran bentuk spiral serta bentuk binatang berkaki empat di bagian bawah. Dalam alam pikiran masyarakat dari suku-suku bangsa di Indonesia mengenal adanya dunia atas dan dunia bawah, maka binatang berkaki empat dianggap sebagai binatang keramat. Sementara bentuk spiral sudah ada sejak jaman perunggu atau kebudayaan Dongson melintas jauh sampai di bagian timur Indonesia.


Wadah Tinta Tattoo

Kayu;
Dayak, Kalimantan Tengah;
No.Inv. 7669.

Kayu berukir dengan bentuk anjing berkepala naga disebut motif aso. Motif ini merupakan perwujudan nenek moyang yang amat ditakuti orang Dayak. Motif ini juga merupakan simbol kesuburan. Bagian punggung aso terdapat dua buah cekungan yang berfungsi sebagai wadah cairan tinta untuk tattoo atau merajah. Bagi orang Dayak merajah bagian tubuh dengan motif-motif tertentu dapat merupakan simbol bahwa ia orang Dayak, simbol kejantanan bagi laki-laki-laki dan juga sebagai simbol kebangsawanan laki-laki maupun perempuan. Menurut kepercayaan orang Dayak apabila ia meninggal kelak, bekas tattoo yang berwarna hitam ditubuh mereka akan berubah menjadi emas dan tubuhnya akan bercahaya.


Hiasan Dinding

Katun, manik-manik, kerang
Lampung, Sumatra Selatan,
No.inv. 28853

Hiasan dinding bermotif kapal yang dirangkai dari manik-manik dan kerang digunakan dalam upacara adat antara lain upacara perkawinan. Motif kapal merupakan simbol dari kehidupan seseorang sejak lahir, dewasa, menikah hingga meniggal (life cycle), mereka percaya bahwa roh orang yang meninggal dibawa ke dunia lain dengan kapal, sedangkan motif manusia merupakan simbol dari roh nenek moyang.


Hiasan Telinga

Besi
Dayak, Kalimantan
Nomor inv.9874

Perhiasan telinga berbentuk motif aso, yaitu perpaduan antara naga dan anjing yang distilir. Motif aso merupakan motif khas Dayak di Kalimantan, motif naga adalah simbol dunia bawah yang diasosiasikan dengan air. Air juga merupakan simbol perempuan yang dikaitkan dengan kesuburan.

Selasa, 19 Mei 2009

Koleksi Keramik


Koleksi Keramik di Museum Nasional yang terbanyak berasal dari Cina, dari masa Dinasti Han (206 sM - 220 M) sampai dengan masa dinasti terakhir, Dinasti Qing (1644-1912). Lainnya berasal dari Vietnam (abad ke-14 - 16 M), Thailand (abad ke-14 - 16 M), Jepang (abad ke-17 - 19 M), Timur Tengah (abad ke-18 - 19 M), dan Eropa (abad ke-17 - 19 M).

Koleksi tersebut merupakan data sejarah yang membuktikan adanya hubungan antara Indonesia dengan negara-negara lain di masa lalu, antara lain hubungan perdagangan. Indonesia di masa lalu merupakan penghasil utama rempah-rempah untuk komoditi perdagangan. Perdagangan masa lalu dilakukan dengan cara pembayaran uang atau cara tukar menukar (barter) rempah-rempah dengan keramik yang berasal dari luar negeri. Selain karena perdagangan, keramik diduga pula datang sebagai hadiah, upeti atau barang bawaan.


VAS

Porselin;
Vietnam, abad ke-15 M;
Ditemukan di Ternate, Maluku;
T. 26 Cm;
No. Inv. 1759

Hiasan warna biru di bawah glasir dengan motif bunga peoni. Badannya pipih dan berpegangan dua. Bentuk seperti ini jarang ditemukan, sehingga vas tersebut merupakan salah satu koleksi terbaik di Museum Nasional.
Ternate sebagai tempat temuan, di masa lalu pernah terkenal sebagai salah satu penghasil rempah-rempah yang dapat ditukar atau diperjualbelikan dengan keramik asing.


Vas Amphora

Cina, dinasti Tang,
Abad ke-7;
Porselin kasar;
Pasemah, Sumatera Selatan.

Vas badan berbentuk bulat lonjong, leher seperti pipa silindrik tinggi dengan pegangan dari badan ke tepian atas berbentuk naga, disebut Amphora yang merupakan pengaruh Yunani.



Senin, 18 Mei 2009

Koleksi Numismatik dan Heraldik


Koleksi Numismatik terdiri dari benda-benda seperti koin, uang kertas dan token yang pernah beredar dan digunakan oleh masyarakat, di samping itu juga terdapat alat cetak uang. Koleksi Numismatik Museum Nasional sebagian besar berasal dari masa kerajaan-kerajaan Indonesia kuna, masa kolonial (Belanda, Portugis, Inggris dan Jepang) hingga masa kemerdekaan Indonesia. Selain koleksi numismatik dari dalam negeri, juga terdapat koleksi numismatik yang berasal dari negara-negara di benua Asia, Eropa, Afrika, Amerika dan Australia. Sedangkan koleksi Heraldik yang dimiliki Museum asional adalah lambang-lambang seperti medali/tanda jasa, cap/setempel, dan amulet.

Uang “PITIH TEBOH”

Uang ini berbentuk segi delapan dengan lubang bundar di bagian tengah, terbuat dari timah dengan berat 1,44 gr. Uang ini berasal dari Palembang, Sumatra Selatan.. Salah satu sisinya tertera tulisan Arab, dibaca “Haza fulus fi Balad Palembang-1219”. Dari angka tahun Hijriyah yang tertera 1219 (=1804 Masehi), uang ini beredar pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin. No. Inv. 12991


Uang “KASHA”

Uang berbentuk bundar dengan lubang berbentuk segi enam di bagian tengah ini terbuat dari kuningan mempunyai berat 3,57 gr. Uang ini berasal dari masa Kesultanan Banten, abad ke 16 M. Pada salah satu sisinya tertera tulisan Arab berbahasa Jawa, dibaca “Pangeran Ratu Ing Banten”, gelar Sultan Maulana Muhammad yang memerintah di Banten pada tahun 1580-1596.
No. Inv. 13621


Medali JP Coen

Perunggu
Belanda
Tahun 1937
No. inv. 13344
Medali tanda penghargaan 350 tahun kelahiran Jan Pieter Zoon Coen (1587-1937), pendiri kota Batavia, Hindia Belanda (Indonesia), sebagai Gubernur Jenderal dan meninggal dunia pada tahun 1629. Nama Batavia berasal dari Batavieren, nama suku bangsa nenek moyang bangsa Belanda yang berasal dari Jerman. Nama Batavia kemudian diusulkan oleh Van Raai pada tanggal 12 Maret 1619.


Uang "Gobog"

Kuningan
Jawa (Majapahit)
Abad XIII-XVI Masehi
D 68,16 mm, Tbl 3,38 mm, Brt 73, 5 gr
No. inv. 2628/3032

Bagian tengah berlubang tembus sisi lainnya. Di sekitar lubang terdapat motif bintang bersudut enam. Sisi muka bergambar relief wayang (Semar, Kresna), seekor gajah dan ular. Pada sisi lain tertera tulisan Arab yang merupakan kalimat Syahadat "La ilaha illallah, Muhammad Rasulullah". Uang ini disebut juga "pisis" dan diperkirakan beredar pada masa akhir Kerajaan Majapahit.


Uang "Kampua (Bida)"

Katun
Buton, Sulawesi Tenggara
Abad XIX Masehi
P 140 mm, L 170 mm
No. inv. 13002

Jenis uang ini terbuat dari sehelai tenunan berbentuk persegi panjang. Tenunan ini dibuat oleh putri-putri istana dengan jumlah dan corak yang ditentukan di bawah pengawasan Menteri Besar. Setiap tahun coraknya dibuat berbeda untuk menghindari pemalsuan. Pemalsu uang "Kampua" dapat dituntut hukuman mati.


Jumat, 15 Mei 2009

Foto-foto Museum Nasional






(Dari berbagai sumber di internet)

Kamis, 14 Mei 2009

Pengantar


Museum Nasional sebagai sebuah lembaga studi warisan budaya dan pusat informasi edukatif kultural dan rekreatif, mempunyai kewajiban menyelamatkan dan melestarikan benda warisan budaya bangsa Indonesia. Hingga saat ini koleksi yang dikelola berjumlah 141.899 benda, terdiri atas tujuh jenis koleksi yaitu prasejarah, arkeologi, keramik, numismatik-heraldik, sejarah, etnografi, dan geografi.

Penyelamatan dan pelestarian budaya ini pada hakikatnya ditujukan untuk kepentingan masyarakat, diinformasikan melalui pameran dan penerbitan-penerbitan katalog, brosur, audio visual juga website. Tujuannya agar masyarakat tahu dan ikut berpartisipasi dalam pelestarian warisan budaya bangsa.

Mengenai pameran, sistem penataan pameran di gedung lama (Unit A) berdasarkan pada jenis-jenis koleksi, baik berdasarkan keilmuan, bahan, maupun kedaerahan. Misalnya Ruang pameran Prasejarah, Ruang Perunggu, Ruang Tekstil, Ruang Etnografi daerah Sumatera, dan lain-lain. Sedangkan penataan pameran di gedung baru (Unit B atau Gedung Arca) tidak lagi berdasarkan jenis koleksi, melainkan mengarah kepada tema berdasarkan aspek-aspek kebudayaan yang memosisikan manusia sebagai pelaku dalam lingkungan tempat tinggalnya. Tema pameran yang berjudul “Keanekaragaman Budaya dalam Kesatuan” ini terdiri atas beberapa subtema antara lain [1] Manusia dan Lingkungan, [2] Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Ekonomi, [3] Organisasi Sosial dan Pola Pemukiman, dan [4] Khasanah dan Keramik.

Gedung Unit C direncanakan akan dibangun untuk memperluas tata pameran yang sudah ada dan untuk melengkapi subtema terakhir yaitu [5] Religi dan Kesenian. Hanya doa restu dan dukungan dari berbagai pihak (pemerhati museum, akademisi, pengunjung) yang kami harapkan agar pembangunan gedung selanjutnya dapat terlaksana. Terima kasih.

Kepala Museum Nasional

Dra. Retno Sulistianingsih Sitowati, MM

Mengapa Museum Sering Kebobolan?


Oleh: Djulianto Susantio
(Sinar Harapan, 6 April 2009)

Untuk kesekian kalinya koleksi museum dicuri orang. Terakhir yang menjadi korban adalah arca Buddha peninggalan Kerajaan Sriwijaya milik Museum Balaputra Dewa Palembang. Kabar terakhir menyebutkan koleksi tersebut telah ditemukan kembali. Kejadian serupa antara lain pernah menimpa Museum Radya Pustaka Solo. Pelakunya kemudian diketahui adalah orang museum sendiri, sementara pembeli barang-barang tersebut adalah seorang pengusaha beken, Hashim Djojohadikusumo. Kita masih belum tahu apakah motif pencurian di Museum Balaputra Dewa sama dengan motif pencurian di Museum Radya Pustaka ataukah berbeda.

Yang jelas, masalah yang sama selalu dan tetap berulang tanpa ada perbaikan. Para pengambil keputusan tidak ada bosan-bosannya mengatakan “akan menjadikan kasus itu sebagai pelajaran berharga”. Mengingat kebanyakan museum di Tanah Air kita adalah milik pemerintah, tentu saja pemerintah—baik pusat maupun daerah—yang harus bertanggung jawab.

Tidak dipungkiri, alasan klasik dan klise selalu diumbar-umbar pengelola museum: kurang dana dan kurang tenaga. Begitu juga alasan pemerintah: anggaran untuk bidang kebudayaan dalam APBN/APBD selalu diciutkan dari tahun ke tahun. Malah sering ditambah: prioritas sedang ditujukan untuk pembenahan dunia pendidikan. Bukankah museum juga merupakan sarana pendidikan dan pembelajaran untuk generasi kini dan generasi mendatang? Sejak lama museum selalu dicanangkan menjadi objek yang bersifat rekreatif edukatif. Artinya, selain ditujukan untuk kepentingan pariwisata, museum dijadikan sebagai etalase ilmu pengetahuan untuk segala lapisan masyarakat.

Konon, di Indonesia hanya terdapat kurang dari 400 museum. Itu pun 11 di antaranya telah tutup tahun 2008 karena masalah dana. Berapa banyak persentasenya dibandingkan dengan jumlah penduduk dan kekayaan budaya yang kita miliki, tentu kita bisa menerka-nerkanya sendiri. Bandingkan dengan Belanda, misalnya, yang mampu membangun ribuan museum. Bahkan, becak yang dikenal sebagai kendaraan tradisional di Indonesia, justru lebih gampang dijumpai di sana daripada di negara asalnya.


Lebih Dibeli dan Dirawat Kolektor?

Pencurian berbagai koleksi museum memang ibarat “lingkaran setan”. Tahun 1970-an koleksi numismatic Museum Nasional pernah digondol penjahat besar Kusni Kasdut. Tahun 1980-an tujuh potong keramik antik dan langka, juga milik Museum Nasional, raib entah ke mana. Tahun 1990-an sejumlah lukisan, lagi-lagi milik Museum Nasional, tahu-tahu sudah berada di tangan kolektor Singapura. Pembahasan pun ramai. Berbagai pejabat berwenang dan sejumlah tokoh berbicara.

Terhadap kasus Museum Radya Pustaka. Peran Hashim Djojohadikusumo dan Hugo Krueger disorot. Karena apa? Hashim mengaku membeli barang-barang itu dari Krueger di luar negeri. Tentu yang menjadi persoalan adalah mengapa barang-barang curian itu bisa sampai di sana? Lemahnya mental pegawai museum dan aparat terkait sering disalahkan. Sampai-sampai ketidakcakapan pemerintah tak luput dari gunjingan.

Metafora selalu mengatakan bahwa benda-benda arkeologi adalah harta yang tidak ternilai harganya. Artinya, semua benda arkeologi tidak bisa diukur dengan uang karena nilai ilmu pengetahuannya jauh lebih penting dari itu.

Tanpa bermaksud mendukung pencurian yang melanggar hukum itu, kita terusik untuk bertanya, “Benarkah arca-arca tersebut dalam keadaan yang lebih baik dan aman jika berada di tangan museum dan pemerintah?” Seorang rekan arkeolog pernah merasa jengkel dan rada mengolok. “Kalau Museum Nasional dan Museum Sejarah Jakarta dijadikan patokan bagi kualitas museum-museum di Indonesia, maka bisa dipastikan museum adalah tempat yang mengerikan bagi warisan-warisan arkeologi. Betapa banyak koleksi museum berada dalam kondisi yang aus dan berjamur, terlihat seperti tak terawat sama sekali,” katanya.

Jika demikian keadaannya, tentu saja akan lebih baik bila koleksi-koleksi tersebut dicuri lalu dibeli oleh kolektor pribadi yang mampu merawat koleksi-koleksi itu dengan lebih baik. Pencurian benda-benda masa lampau yang dilindungi hukum memang salah. Namun, menelantarkan benda tersebut dengan alasan apa pun adalah tindakan yang lebih salah.


Pariwisata dan Pendidikan

Mungkin ada benarnya kalau orang mengatakan banyak gedung museum di negeri kita ibarat “kandang ayam”. Selain kondisi bangunannya yang terlihat gampang ambruk, situasi dalamnya pun tak ubahnya peribahasa “mati segan, hidup tak mau”. Pencahayaan selalu redup, lemari pajangan keropos di sana-sini, kotak-kotak informasi masih terlalu jadul, tembok dan lantai sangat kusam, begitulah yang sering dikeluhkan pengunjung. Ironisnya, kehidupan museum hanya tergantung dari karcis masuknya. Sudah jelas untuk biaya operasional sehari-hari saja tidak cukup.

Kalau kualitas museum di Jakarta saja masih banyak dipertanyakan, tentu kondisi museum di daerah jauh lebih buruk. Padahal, justru kekayaan budaya di daerah jauh lebih banyak daripada di Jakarta. Jadi, sudah saatnya pemerintah memperhatikan kondisi museum, jangan ditunda-tunda lagi. Museum harusnya menjadi tempat yang paling aman untuk menyimpan harta karun bangsa. Kondisi fisik harus benar-benar diperhatikan, misalnya melengkapi museum dengan kamera pengintai, alarm, dan pintu otomatis. Kondisi nonfisik pun tidak boleh ditinggalkan. Pegawai museum kan manusia, tentu memerlukan kehidupan yang layak.

Kita harus yakin, museum yang baik pasti akan dicari orang. Karena apa? Museum memiliki dua fungsi sekaligus, yakni sebagai objek pariwisata dan sebagai objek pendidikan. Yang kini terlihat sungguh membuat hati miris, museum hanya sebagai gudang peninggalan barang-barang kuno sehingga terkesan angker. Marilah kita mulai membenahi museum. Bangsa yang besar adalah bangsa yang memperhatikan sejarahnya, tentu lewat museum. Lewat museum kita bisa berkaca tentang kecemerlangan bangsa Indonesia di masa lampau.

Mudah-mudahan, masyarakat dan pemerintah akan segera mampu memperlakukan museum kita, termasuk benda-benda koleksinya, secara lebih “manusiawi”. Jika sudah demikian, itulah saat yang paling pantas untuk mengutuk pencurian dan transaksi ilegal benda-benda cagar budaya milik negara. Jadi, kalau ada pertanyaan mengapa museum kita sering kebobolan, untuk sementara ini jawabnya adalah karena mental dan dana.

Penulis adalah seorang arkeolog, tinggal di Jakarta

Membludak di Berlin, Sepi di Jakarta


Oleh: Djulianto Susanto

(Sinar Harapan, 2 Februari 2006)

Koleksi benda-benda purbakala, sejarah, seni, dan budaya asal Indonesia banyak terdapat di mancanegara. Salah satunya adalah di Museum Etnologi Dahlem (Berlin), Jerman. Dari 50.000 objek yang berasal dari Asia, sekitar tiga per empatnya merupakan benda-benda budaya dari Indonesia. Museum di ibu kota Jerman itu bertaraf internasional dan merupakan tujuan kunjungan wisatawan mancanegara.

Museum Berlin ditangani sumber daya manusia yang terampil, dibantu perkembangan teknologi yang modern. Kondisi ruangannya bersih dan terpelihara baik. Pengunjungnya membludak bahkan sering kali harus bersabar menunggu giliran antre karcis. Penataan etalase di museum ini juga sangat rapi dan teratur. Koleksi asal Indonesia yang dipamerkan di sini diperoleh dari hampir semua daerah.

”Kami memiliki koleksi besar wayang, di antaranya wayang golek, wayang kulit, dan wayang klitik, berikut sejumlah besar topeng dan anyaman,” kata pimpinan museum itu, Dr Wibke Lobo sebagaimana pernah disiarkan Radio Suara Jerman Siaran Indonesia belum lama ini. Koleksi-koleksi itu dikumpulkan oleh orang-orang Jerman yang sering berkeliling Indonesia sejak abad ke-19.

Awalnya, mereka sangat terpesona akan pertunjukan wayang, lantas banyak membeli boneka wayang dan topeng. Apalagi benda-benda tersebut ringan, mudah diangkut, dan harganya relatif murah. Dengan cara itu koleksi wayang museum kami menjadi lengkap, demikian Lobo.

Sebagian besar koleksi Museum Berlin merupakan milik Adolf Bastian, direktur pertama museum itu. Bastian merupakan seorang ahli antropologi, etnologi, dan dokter (1826-1905). Di kalangan ahli sejarah kebudayaan, Bastian dikenal sebagai seorang ahli tentang Indonesia (Indologi). Nama Indonesia dipercaya pertama kalinya diperkenalkan oleh Bastian.

Bastian banyak berkeliling dunia dan membuat laporan etnografi tentang bangsa-bangsa yang pernah dijumpainya. Dia sering mengunjungi Indonesia bahkan menulis buku tentang Indonesia. Karena tertarik dengan Asia, dia berkeinginan besar mendokumentasikan karya seni dan kebudayaan.


Berlin dan Jakarta

Koleksi-koleksi itu disimpan dalam kondisi iklim dan suhu yang memenuhi syarat. ”Staf museum sangat berhati-hati dengan benda itu. Untuk memegangnya mereka menggunakan sarung tangan. Dengan cara itu benda-benda tersebut dapat bertahan sampai ratusan tahun,” cerita Lobo. Para kurator tidak saja bertanggung jawab terhadap pengadaan dan penelitian koleksi, tetapi juga meluaskan informasi melalui media massa. Setiap tahun Museum Berlin menyelenggarakan pameran tetap tentang Indonesia dan pameran khusus sesuai tema yang hendak dikemukakan.

Lain Berlin lain Jakarta. Di Jakarta kotor dan semrawut. Begitulah kira-kira gambaran Museum Wayang Jakarta, yang terletak di Jalan Pintu Besar Utara, dekat stasiun kereta api Jakarta Kota. Museum yang didirikan pada 1975 itu terkesan kumuh sehingga sedikit didatangi pengunjung. Banyak kendala dihadapi museum ini. Selain gedungnya kecil yang merupakan peninggalan Belanda, Museum Wayang tak memiliki areal parkir. Ini yang menyulitkan pengunjung.

Namun museum ini cukup ramai pada hari Minggu atau libur manakala ada demo pembuatan wayang, pemutaran video, atau pameran temporer. Biasanya banyak wisatawan mancanegara datang ke sana, yang tentu saja berdampak positif pada pengenalan kesenian wayang.

Saat ini jumlah koleksi Museum Wayang mencapai 5.000 buah, meliputi berbagai jenis wayang dari dalam negeri dan mancanegara. Ditambah berbagai perlengkapan pertunjukan wayang, seperti blencong, gamelan, dan layar. Wayang-wayang mancanegara antara lain berasal dari China, Kamboja, Malaysia, India, Prancis, Belanda, dan Inggris.


Pembenahan

Lokasi Museum Wayang juga kurang ideal karena dihimpit kantor dagang dan tanpa halaman membuat debu-debu mudah memasuki ruangan karena pintu masuk dan jendela persis terletak di tepi jalan raya. Begitu juga angin laut yang lembab di malam hari dan panas terik di siang hari. Cuaca yang ekstrem ini berperan merusakkan koleksi yang umumnya terbuat dari kain, kulit, kayu, dan bahan-bahan yang mudah rapuh.

Sebagai negara besar yang dikenal memiliki kebudayaan tinggi sejak dulu kala, tentu amat memalukan kalau kita tidak mempunyai museum wayang yang representatif atau berkelas internasional seperti halnya Museum Berlin. Padahal banyak jenis wayang dari berbagai daerah sudah pantas dilestarikan di dalam museum ini. Apalagi wayang sudah dianggap sebagai warisan milik dunia oleh UNESCO tahun 2004 lalu.

Sudah seharusnya Museum Wayang dibenahi dan melengkapinya dengan laboratorium konservasi. Jangan sampai kita harus belajar wayang atau melihat wayang ke negeri orang. Selain Berlin (Jerman), beberapa negara seperti AS, Belanda, Inggris, Prancis, Jepang, dan Australia juga memiliki museum wayang.

Di sana terdapat banyak perangkat gamelan. Ini karena para mahasiswa yang memilih jurusan seni Indonesia relatif banyak jumlahnya. Mereka membentuk semacam perkumpulan penggemar wayang. Museum Wayang terbesar di mancanegara antara lain adalah Museum of Mankind dan Smithsonian Institute (AS).

Kita sendiri yang harus melestarikan wayang Indonesia, misalnya membuat program khusus jangka panjang. Program ini dikaitkan dengan pariwisata Indonesia sehingga promosinya lebih mudah.

Penulis adalah arkeolog, tinggal di Jakarta

Wisata Museum di Jakarta


Dijuluki Kota Metropolitan, namun sebenarnya Jakarta pantas pula dijuluki Kota Museum. Berbagai museum ada di sini, terutama di kawasan Kota Tua Jakarta Kota. Saat ini di Jakarta terdapat lebih dari 30 museum dengan jenis-jenis yang berbeda. Museum-museum ini dikelola oleh berbagai pihak, seperti Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, instansi pemerintah/swasta, dan kelompok/perorangan.

Pemda DKI Jakarta melalui Dinas Museum dan Pemugaran (DMP) relatif banyak mengelola museum. Museum-museum yang berada di bawah pengawasan DMP adalah Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah), Museum Wayang, Museum Seni Rupa, Museum Keramik, Museum Bahari, Museum (Taman) Prasasti, Museum Tekstil, Museum (Gedung) Juang ’45, Museum MH Thamrin, serta Balai Informasi Sejarah dan Budaya Jakarta.

Jakarta merupakan sebuah kota yang memiliki periode sejarah cukup lengkap, mulai dari periode prasejarah hingga dewasa ini. Obyek-obyek dari periode itulah yang disajikan berbagai museum tadi.

Museum Sejarah Jakarta terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat. Areal museum luasnya lebih dari 13.000 meter persegi. Bangunannya bergaya arsitektur kuno abad ke-17. Dulunya gedung ini bernama Stadhuis atau Balai Kota. Museum Sejarah Jakarta berdiri pada 30 Maret 1974. Berbagai obyek yang dapat disaksikan di museum ini antara lain perjalanan sejarah Jakarta, hasil penggalian arkeologi di Jakarta, mebel antik mulai dari abad ke-18, keramik, gerabah, dan batu prasasti. Koleksi-koleksinya terdapat di berbagai ruang, seperti Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Fatahillah, Ruang Jayakarta, Ruang Sultan Agung, dan Ruang MH Thamrin.

Ada juga berbagai koleksi tentang kebudayaan Betawi, numismatik, dan becak. Bahkan kini diperkaya dengan patung Dewa Hermes yang tadinya terletak di perempatan Harmoni dan meriam Si Jagur yang dipandang mempunyai kekuatan magis. Jangan lupa, di Museum Sejarah Jakarta terdapat bekas penjara bawah tanah yang dulunya sangat menakutkan.


Di Sekitar

Tak jauh dari sini, menyeberang ke arah kiri, terdapat Museum Wayang. Letaknya di Jalan Pintu Besar Utara Nomor 27, Jakarta Barat. Semula bangunan ini bernama De oude Hollandsche Kerk. Pemakaian Museum Wayang diresmikan pada 13 Agustus 1975.

Museum Wayang memamerkan berbagai jenis dan bentuk wayang dari seluruh Indonesia, baik yang terbuat dari kayu dan kulit maupun bahan-bahan lain. Wayang-wayang dari luar negeri ada juga di sini, misalnya dari Cina dan Kamboja. Hingga kini koleksinya lebih dari 4.000 buah, terdiri atas wayang kulit, wayang golek, wayang kardus, wayang rumput, wayang janur, topeng, boneka dan gamelan. Umumnya boneka berasal dari Eropa.

Tak jauh dari Museum Sejarah Jakarta, menyeberang ke arah kanan terdapat Museum Seni Rupa dan Museum Keramik. Kedua museum ini terdapat dalam satu gedung, yaitu Balai Seni Rupa dan Keramik di Jalan Taman Fatahillah No. 1, Jakarta Barat. Museum Seni Rupa memamerkan aneka macam karya seni lukis dari berbagai aliran, seperti naturalisme, abstrak dan surealisme. Pelukis Indonesia yang karyanya tersimpan di sini antara lain Raden Saleh, Affandi, Sudjojono, dan Basuki Abdullah.

Museum Keramik menampilkan koleksi keramik lokal dan keramik asing, baik berupa hasil penggalian arkeologis maupun sumbangan dan pembelian dari berbagai pihak. Keramik Cina terbanyak jumlahnya, menyusul keramik Jepang, Siam (Thailand), Annam (Vietnam), dan Eropa.

Koleksi keramik lokal di antaranya berasal dari Kasongan, Plered, Malang, Palembang, dan Singkawang. Selain keramik tradisional juga digelar kemarik modern atau keramik kreatif hasil karya seniman-seniman Indonesia.

Agak ke utara terdapat Museum Bahari. Lokasinya di Jalan Pasar Ikan No. 1, Jakarta Barat. Museum ini menyajikan koleksi yang berhubungan dengan kehidupan kebaharian dan kenelayanan bangsa Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Koleksi-koleksi itu terdiri atas berbagai jenis perahu tradisional dengan aneka bentuk, gaya dan ragam hias. Disajikan pula berbagai model kapal modern dan perlengkapan penunjang kegiatan pelayaran. Di sisi lain ditampilkan koleksi biota laut dan aneka perlengkapan nelayan.


Di Tanah Abang

Ada juga tempat yang memamerkan prasasti makam tokoh-tokoh sejarah bangsa Indonesia. Tempat ini bernama Museum (Taman) Prasasti. Museum yang berlokasi di Jalan Tanah Abang I, Jakarta Pusat ini menyimpan pula prasasti-prasasti makam bangsa Belanda.

Tokoh bangsa Indonesia yang prasastinya ada di sini antara lain Miss Riboet (tokoh sandiwara) dan Soe Hok Gie (tokoh mahasiswa). Sementara prasasti tokoh bangsa Belanda adalah Dr. WF Stutterheim (ahli arkeologi), Dr. HF Roll (pendiri Stovia), dan JHR Kohler (tokoh Perang Aceh).

Masih di kawasan Tanah Abang, di Jalan KS Tubun No. 4, Jakarta Pusat, kita dapat berkunjung ke Museum Tekstil. Museum ini memamerkan pola, ragam hias batik, dan aneka tekstil yang didapat dari segenap penjuru Nusantara. Alat tenun tradisional ikut memperkaya khasanah koleksi museum ini. Banyak jenis tekstil tidak dipamerkan museum ini karena sudah terlalu tua umurnya.

Di kawasan Menteng terdapat Museum (Gedung) Juang ’45. Museum yang lokasinya di Jalan Menteng Raya No. 31, Jakarta Pusat, ini memamerkan foto-foto dokumentasi sejarah perjuangan bangsa kurun waktu 1945-1950. Terdapat juga sejumlah lukisan perjuangan, patung tokoh pejuang dan panji. Koleksi lainnya berupa mobil REP1 dan REP2, mobil dinas resmi Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta.

Dua museum lain yang dikelola DMP adalah Museum MH Thamrin serta Balai Informasi Sejarah dan Budaya Jakarta. Museum MH Thamrin yang terletak di Jalan Kenari, Jakarta Pusat, ini memamerkan foto-foto dokumentasi perjuangan MH Thamrin dalam mencapai kemerdekaan. MH Thamrin sendiri adalah nama pejuang Jakarta yang namanya antara lain diabadikan untuk proyek pembuatan jalan kampung dan nama jalan protokol.

Sementara itu Balai Informasi sejarah dan Budaya Jakarta berlokasi di Jalan Silang Monas Utara, Jakarta Pusat. Koleksinya meliputi foto-foto dan miniatur benda-benda tentang sejarah, rencana pengembangan kota serta budaya Jakarta.

Karena ditangani instansi pemerintah (daerah), museum-museum ini tampak kurang menggigit. Minimnya dana perawatan dan tenaga pengelola sangat terasa. Banyak koleksi museum kurang terpelihara dan tersaji dengan apik. Debu, misalnya, masih terbalut di banyak koleksi. Minimnya penerangan masih dijumpai di banyak ruangan. Informasi tentang koleksi yang seadanya kerap kali membingungkan pengunjung.

Sebagai Kota Budaya tentu pihak berwenang harus meningkatkan kualitas museum. Dengan demikian wisata museum di Jakarta akan berkembang karena mengundang pesona para wisatawan. Apalagi museum adalah etalase ilmu pengetahuan sekaligus obyek wisata pendidikan dan budaya.

(Djulianto Susantio/Sinar Harapan, 2003)


Minggu, 10 Mei 2009

Koleksi Museum Nasional


Museum Nasional memamerkan aneka macam koleksi benda yang merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia seperti yang sering digunakan dalam upacara-upacara dan ritual-ritual. Museum Nasional menyimpan lebih dari 140.000 benda-benda cagar budaya. Anda dapat menikmati pameran koleksi benda dalam ruang pameran di gedung lama, yaitu ruang pameran Etnografi, ruang Perunggu, Prasejarah, Keramik, Tekstil, Numismatik, Relik Sejarah, Arca batu, dan ruang Khasanah. Juga ruang pameran di gedung baru yang disajikan secara tematis dari lantai 1 hingga lantai 4, yaitu [1] Manusia dan Lingkungan, [2] Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Ekonomi, [3] Organisasi Sosial dan Pola Pemukiman, [4] Khasanah dan Keramik.


Para pengunjung bisa memilih koleksi-koleksi mana yang pertama ingin mereka lihat, tergantung dari minat mereka. Jika Anda ingin melihat koleksi peniggalan yang berhiaskan emas terlebih dahulu, Anda belok kiri dan naiki tangga untuk mencapai Ruang Khasanah dan berjalan searah jarum jam. Jika Anda ingin melihat koleksi Etnografi dahulu, anda hanya belok kanan dan berjalan berlawanan dengan arah jarum jam. Selamat menikmati.

Kemajuan Museum Tergantung Keprofesionalan


Oleh DJULIANTO SUSANTIO
(Suara Pembaruan, 11 Januari 2005)

TAHUN lalu Suara Pembaruan menampilkan tulisan berjudul "Museum Nasional Sepi Pengunjung" dan "Museum Nasional Masih Perlu Gedung Baru". Tulisan itu semakin menambah panjang deretan persoalan museum di Indonesia. Sadar atau tidak sadar, sebenarnya jumlah koleksi Museum Nasional yang di atas 100.000 buah, menjadikan museum itu merupakan salah satu museum terkaya di dunia. Koleksi-koleksi tersebut dikumpulkan sejak abad ke-18 dan berasal dari zaman prasejarah hingga kolonial.

Sebagai museum terbesar dan tertua di Indonesia, Museum Nasional termasuk kategori museum umum, karena koleksinya terdiri atas berbagai jenis objek ilmu pengetahuan dan kesenian. Koleksi tertua berasal dari zaman prasejarah, antara lain fosil, gerabah, kapak batu, kulit kerang, manik-manik, dan nekara perunggu. Sementara koleksi yang tergolong adikarya berupa keramik-keramik asing, terutama dari Cina.

Koleksi arkeologi juga relatif banyak. Sebagian terbesar berasal dari zaman klasik, abad ke-5 hingga ke-16, antara lain berupa arca, ornamen bangunan, prasasti, mata uang, alat musik, dan alat upacara. Bahkan dilengkapi dengan ruang khasanah yang khusus memamerkan benda-benda berharga dari emas.

Koleksi lain adalah numismatik dan heraldik. Koleksi numismatik berupa mata uang yang pernah beredar di kepulauan Nusantara, termasuk uang-uang dari mancanegara. Koleksi heraldik berupa tanda jasa atau lambang dari masa prasejarah hingga abad ke-20.

Koleksi relik sejarah, meskipun sedikit, juga terdapat di Museum Nasional. Antara lain berupa prasasti, mebel, lampu antik, gerabah, meriam, dan keramik dari abad ke-16 hingga ke-19. Begitu juga koleksi geografi, yang umumnya berupa peta-peta kuno. Sedikit jumlahnya, tetapi memberikan informasi detil tentang kota-kota kuno pada waktu itu.

Sebagai bangsa yang multietnis, Museum Nasional menyajikan koleksi etnografi, berupa benda-benda budaya dari berbagai sukubangsa di Indonesia. Tak ketinggalan, Museum Nasional juga memiliki koleksi seni rupa. Karya pelukis Raden Saleh dan Affandi, merupakan koleksi bersejarah yang dipamerkan di sini.


Banyak

Banyaknya koleksi yang dimiliki Museum Nasional, menjadikan museum ini terkesan sempit dan kumuh. Apalagi gedung yang ditempatinya merupakan warisan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Untunglah, beberapa tahun lalu Museum Nasional mendapat hibah gedung di sebelahnya.

Meskipun kini sudah memiliki gedung baru bertingkat, namun kesan sempit masih terasa. Idealnya, Museum Nasional harus bertingkat sepuluh. Mengingat Museum Nasional masih mempunyai lahan kosong yang cukup luas, tentu sekarang harus dipikirkan bagaimana mencari dana untuk membangun gedung.

Dengan ruangan yang sangat lapang, peluang untuk menata koleksi cukup fleksibel. Sebagai museum yang bertaraf internasional, seharusnya setiap tingkat diisi dengan satu jenis koleksi. Misalnya lantai pertama untuk koleksi arkeologi, lantai kedua untuk koleksi numismatik, lantai ketiga untuk koleksi keramik, dan seterusnya.

Ruangan-ruangan lainnya bisa digunakan untuk perpustakaan, laboratorium konservasi, gudang penyimpanan, dan aula serbaguna. Sarana pendukung sangat penting, terutama untuk merawat atau memperbaiki benda-benda koleksi yang rusak.

Sebenarnya masalah Museum Nasional bukan hanya gedung baru. Yang penting adalah sumber daya manusianya. Etos kerja sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) mungkin menjadi penyebab mengapa kurator-kurator museum di Indonesia belum berkualitas internasional.

Bandingkan dengan British Museum di Inggris. Hasil kebudayaan apa yang paling dikenal di Inggris? Kecuali Stonehenge, Inggris nyaris tidak memiliki peninggalan budaya yang berarti. Namun British Museum menjadi sangat berarti karena mengoleksi benda-benda budaya berkelas dunia asal Mesir, Irak, Yunani, Romawi, dan Indonesia.

Museum Sejarah Alam-nya begitu populer. Para pembuat film dokumenter seperti Discovery Channel dan National Geographic Channel, hampir selalu mengambil referensi dari British Museum. Bahkan British Museum memiliki anggaran untuk melakukan ekskavasi arkeologi di Mesir, Irak, dan berbagai negara lain.

Berbagai ensiklopedia yang ditulis kurator British Museum sangat populer di mana-mana. Manajemen pengelolaannya selalu menjadi inspirasi bagi pengelola museum di negara-negara berkembang.

Kesimpulan yang bisa kita ambil dari British Museum adalah pengelolaannya sudah benar-benar profesional. Mereka memperlakukan benda-benda budaya milik bangsa lain seperti milik bangsanya sendiri. Mereka merawatnya dengan hati-hati dan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh.

Bukan hanya Inggris. Belanda dan Prancis pun pantas disebut Negara Museum. Tradisi mengunjungi museum sudah membudaya hebat. Jangan heran kalau untuk masuk museum saja, orang harus rela antri berpuluh-puluh meter panjangnya. Padahal harga tiket masuk di sana mencapai Rp 100.000 jika dikurskan dengan rupiah.

Negara tetangga kita, Singapura, sudah lama mengandalkan museum sebagai daya tarik pariwisata. Singapura memang tidak mempunyai sumber daya alam atau sumber daya budaya yang menarik seperti Indonesia. Namun kelebihannya, mereka memiliki sumber daya manusia yang handal sehingga mampu menjual potensi museum.

Boleh dikatakan Museum Nasional Singapura masih kalah jauh dibandingkan kualitas dan kuantitas Museum Nasional Jakarta. Namun penataannya sungguh mengagumkan, pencahayaan display amat bagus, promosinya cukup luas, dan penyediaan berbagai fasilitas meyakinkan sekali.

Selain telepon bersuara, museum juga dilengkapi komputer layar sentuh dan perangkat audio-visual untuk membantu pengunjung. Dalam setahun, jumlah pengunjung Museum Nasional Singapura mencapai tujuh juta orang, berkali-kali lipat dari Museum Nasional Jakarta. Sebagai perbandingan tiket masuk di sana mencapai Rp 30.000, sementara di sini Rp 750.


Kontradiksi

Jelas ada yang salah atau kurang dari segi pengelolaan Museum Nasional Jakarta. Sepi pengunjung dan tiket murah merupakan kontradiksi yang sulit diterima akal sehat. Namun bila dikaji, akar masalahnya sebenarnya bukan tiket murah. Biaya transportasi, biaya makan, dan biaya-biaya tak terduga sering menjadi bahan pertimbangan masyarakat, terutama mereka yang berpenghasilan rendah.

Keengganan masyarakat untuk berkunjung ke museum juga disebabkan faktor internal museum, seperti label koleksi kurang informatif, pencahayaan ruangan sangat minim, fasilitas umum kotor dan bau, pelayanan buruk, dan masih banyak lagi.

Untuk memajukan museum dan masyarakat, sebaiknya kita meniru Jepang. Secara periodik para siswa dibimbing para guru untuk belajar dari museum. Mereka beranggapan museum adalah etalase ilmu pengetahuan dalam barisan paling depan. Bentuk museum di sana bukan cuma gedung, tetapi juga mobil keliling dengan segala kecanggihan teknologinya.

Orang percaya kalau bangsa Jepang dapat maju pesat karena tiga hal, yakni guru, museum, dan buku. Peran guru, itulah kunci utamanya. Dengan demikian para siswa akan terapresiasi dengan baik terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam berbagai koleksi museum.

Susahnya kita di sini, Museum Nasional saja sebagai museum tertua, terlengkap, dan terbesar selalu terbentur masalah dana. Tentu museum-museum lain, terutama yang berlokasi di luar Jakarta, lebih parah keadaannya. Apalagi mengingat sebagian besar museum dikelola pemerintah pusat dan pemerintah daerah, yang otomatis anggarannya tergantung dari APBN atau APBD.

Di sejumlah negara kemajuan suatu museum tergantung pada keprofesionalan direktur museum. Dia dituntut aktif, inovatif, dan kreatif. Mudah-mudahan di Indonesia masih ada orang seperti itu.

*Penulis adalah seorang arkeolog

Mengubah Citra Mesti Mengubah Cara Pikir


JAMBI, KOMPAS - Agar museum banyak dikunjungi dan menjadi ikon kota perlu mengubah citra dan cara pandang terhadap museum. Museum bukan sekadar tempat memajang benda-benda tua, tetapi juga masyarakat bisa berinteraksi dan mendapat pengalaman baru.

Demikian benang merah yang terungkap pada Diskusi dan Komunikasi Museum Indonesia sepanjang Selasa (5/5) di Kota Jambi, Provinsi Jambi. Tampil sebagai narasumber adalah Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala Depbudpar Hari Untoro Dradjat, Direktur Museum Intan Mardiana, pengamat museum Victor Chandrawira, kurator dan dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Mike Susanto, guru besar Universitas Indonesia Nurhadi Magetsari, dan kurator museum di AS, Martha Balckwelder. Tampil pula pengamat museum Junus Satrio Atmodjo serta Kepala Subdit Lingkup IV Direktorat Jenderal Otonomi Daerah Departemen Dalam Negeri Faebuadodo Hia.

Victor mengatakan, untuk membuat citra museum lebih baik ke depan, museum harus bisa mengakomodasi kebutuhan masyarakat berbagai kalangan usia.

”Untuk itu dituntut kreativitas dan inovasi kepala museum, bagaimana menjadikan museum sebagai tempat publik dan mempunyai cara pandang sebagai seorang pebisnis,” katanya.

Mike mengatakan, sebagaimana halnya pameran lukisan, pihak museum juga mestinya punya ide-ide mengenai berbagai jenis klasifikasi pameran untuk menghidupkan museum.

Junus yang menemukan banyak persoalan dari hasil penelitiannya mengatakan, kelemahan museum selama ini karena tidak punya kurator dan 80 persen kepala museum tidak punya latar belakang kebudayaan dan 100 persen tak punya latar belakang pendidikan museum.

Hari Untoro Dradjat sebelumnya mengatakan, sejak otonomi daerah, kewenangan pengelolaan dan pengembangan kebudayaan, khususnya museum daerah, diserahkan ke pemerintah daerah. Belakangan, beberapa pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota berkeinginan kuat mendirikan sebuah museum.

”Museum telah menjadi suatu pranata sosial atau infrastruktur yang wajib ada pada suatu pemerintah daerah. Untuk itu, pemerintah pusat mendorong agar dapat segera terwujud aturan perundangan dan pedoman pendirian museum yang baku,” katanya.

Hari juga menegaskan agar pemerintah pusat dan daerah bekerja sama mendukung proses peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) museum, baik melalui jenjang S-1 maupun S-2, bahkan S-3.

Intan Mardiana mengatakan, Diskusi dan Komunikasi Museum Indonesia yang ke-4 ini digelar dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan profesionalisme dalam pengelolaan museum. ”Diharapkan terdapat persamaan persepsi dalam pengembangan museum di Indonesia dalam rangka mempersiapkan Tahun Kunjungan Museum 2010,” katanya.

Dihadiri sekitar 200 peserta dari seluruh kepala museum pemerintah dan swasta di Indonesia, Asosiasi Museum Indonesia, tokoh dan pengamat kebudayaan, pemerhati dan pakar permuseuman, serta akademis, Diskusi dan Komunikasi Museum Indonesia dibuka Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin, Senin (4/5) malam.

Zulkifli Nurdin mendorong pemerintah kabupaten/kota di daerahnya membuat museum guna melestarikan benda-benda seni budaya daerah yang selama ini sering dijual. (NAL)

(Kompas, Rabbu, 6 Mei 2009)

Dikelola Konsorsium, Museum Jadi Menarik


JAMBI, KOMPAS - Pengelolaan Museum Batik Pekalongan dengan sistem konsorsium merupakan paradigma baru dan pertama di Indonesia. Belum sampai tiga tahun sejak diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 12 Juli 2006, museum itu sudah menunjukkan perkembangan dan hasil yang luar biasa. Ribuan orang berkunjung per bulannya dan mendatangkan pemasukan yang relatif besar.

Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Hari Untoro Dradjat mengatakan, pihaknya akan menjadikan Museum Batik Pekalongan sebagai model pengelolaan museum yang patut dicontoh.

Wali Kota Pekalongan Mohamad Basyir Ahmad mengatakan, ketika mendirikan Museum Batik, pihaknya memilih bangunan tua yang indah peninggalan tahun 1906. Adapun pengelolaannya melibatkan swasta dan tenaga profesional. Museum tak sekadar memajang kain batik, tetapi juga menyelenggarakan kursus singkat membatik, paket pelatihan membatik dengan tarif yang bervariasi dan ada sertifikatnya.

”Pajangan batik yang jumlahnya sekitar 1.000 koleksi dari berbagai daerah di Tanah Air itu diubah setiap tiga bulan sehingga pengunjung selalu mendapat suasana baru,” kata Basyir Ahmad di sela-sela Diskusi dan Komunikasi Museum Indonesia di Kota Jambi, Rabu (6/5).

Ditata kembali

Narasumber lain, arkeolog dari Universitas Gadjah Mada, Daud Aris Tanudirjo, dan mantan Dirjen Kebudayaan Edi Sedyawati, sama-sama menekankan perlunya museum ditata kembali dan dikelola dengan paradigma baru.

Hari mengatakan, saat ini terdapat 286 museum di Indonesia dan 101 museum di antaranya museum swasta. Sejak otonomi daerah, museum milik pemerintah provinsi atau kabupaten/kota banyak yang kurang mendapat perhatian seharusnya.

Daud Aris Tanudirjo mengatakan, museum-museum di Indonesia perlu ditata kembali dengan pendekatan yang berkiblat kepada pengunjung. Pengelola museum harus tahu kebutuhan pengunjung.

Edi Sedyawati mengatakan, ada tiga unsur yang menentukan mutu suatu museum, yaitu kualitas koleksinya, efektivitas tata kelolanya, dan kemampuan akademik para kuratornya.

”Ada beberapa aspek permuseuman yang penting, seperti fungsi museum sebagai sumber belajar, pelayanan ilmiah dan informasi publik, konservasi dan keahlian dalam penataan pameran,” ujar Edi Sedyawati. (NAL)

(Kompas, Kamis, 7 Mei 2009)

Sabtu, 09 Mei 2009

Koleksi Prasejarah - 1


Prasejarah merupakan suatu kurun waktu pada saat manusia belum mengenal tulisan. Di Indonesia, masa Prasejarah dimulai sejak keberadaan manusia sekitar 1,5 juta tahun yang lalu hingga dikenalnya tradisi tulisan pada abad ke-5 Masehi, yaitu ketika ditemukannya prasasti Yupa di Kutai, Kalimantan Timur. Peninggalannya berupa fosil, tulang-belulang manusia dan binatang serta artefak, yaitu benda-benda yang pernah dibuat manusia atau dipakai sebagai alat oleh manusia.

Berdasarkan bahan dasar pembuatan alat atau teknologinya, secara umum masa prasejarah dibagi menjadi dua jaman, yaitu jaman batu dan jaman logam. Jaman batu menghasilkan artefak paleolitik dan mesolitik (untuk berburu dan mengumpulkan makanan) serta artefak neolitik (untuk bercocok tanam). Sedangkan jaman logam (paleometalik) menghasilkan artefak perunggu dan besi.

Museum Nasional memiliki berbagai jenis koleksi Prasejarah berupa replika tengkorak manusia purba, artefak paleolitik, mesolitik, neolitik dan artefak logam (paleometalik) serta benda-benda yang berkaitan dengan kepercayaan kepada nenek moyang. Koleksi-koleksi tersebut antara lain berupa kapak genggam dari batu gamping kersikan, beliung-belincung dari batu kalsedon, kalung manik-manik dari kaca serta kapak-kapak upacara perunggu.

Proses Pembuatan Gelang



Batu kalsedon
Tasikmalaya, Jawa Barat
No. Inv. 4280, 5876, 5663

Terdiri dari bakal gelang, gelang dan penghalus, untuk memperlihatkan cara pembuatan gelang mulai dari tahap penyiapan hingga selesai. Proses pembuatan gelang diawali dengan penyiapan bahan yang dibentuk bulat kemudian dipipihkan, dipangkas dan dibuat lubang di bagian tengah. Setelah itu dihaluskan dan dibentuk menjadi gelang kemudian dihaluskan kembali sampai mengkilap.

Candrasa



Perunggu
Bandung, Jawa Barat
No. Inv. 1436

Sejenis kapak upacara yang mempunyai mata kapak melebar kesamping dan kedua ujungnya melengkung ke dalam. Pada gagang terdapat motif geometris yang dikombinasi dengan motif lengkung kecil. Motif hias seperti ini umum dijumpai pada kapak-kapak perunggu dari masa prasejarah. Candrasa digunakan sebagai perlengkapan upacara.

Kendi


Tanah liat
Buni, Jawa Barat
No. Inv. 7005

Bentuknya unik tidak mempunyai cerat dan berbadan bulat. Berhias motif cincin di bagian leher dan garis miring di bagian karinasi. Pada beberapa bagian kendi tampak warna hitam akibat dari pembakaran yang kurang sempurna. Kendi dari masa prasejarah ini sering dijumpai pada situs-situs penguburan di Indonesia. Selain berfungsi sebagai tempat air atau sebagai alat upacara, ditinjau dari tempat penemuannya kendi ini kemungkinan berfungsi sebagai bekal kubur.

Replika Atap Tengkorak Homo Erectus


Gips
Trinil, Solo, Jawa Tengah
Awal dan Tengah Masa Pleistocen
No. Inv. 2208

Homo Erectus diperkirakan sudah ada di kepulauan Indonesia sekitar 1,7 juts tahun yang lalu. Fosil Homo Erectus merupakan jenis manusia purba yang paling banyak ditemukan di Indonesia khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebutan Homo Erectus pertama kali diungkapkan oleh Eugene Dubois atas penemuan pertamanya pads tahun 1891 berupa atap tengkorak dari Trinil. Penemuan Dubois ini merupakan tengkorak laki-laki dengan volume otak sekitar 900 cc.

Beliung


Kalsedon
Sukabumi, Jawa Barat
Masa Neolitik
p. 13 cm; l. 6 cm; tbl. 1,4 cm
No.Inv. 7

Beliung persegi atau kapak persegi merupakan alat batu yang paling dominan dari masa neolitik (masa bercocok-tanam). Penemuannya hampir di seluruh kepulauan Indonesia, khususnya di pulau Jawa, Sumatera dan Bali. Oleh karena itu, seringkali beliung persegi dijadikan acuan bagi masa neolitik di Indonesia. Bahan batuan yang digunakan bermacam-macam dari batuan semi permata hingga batuan biasa seperti gamping. Penggunaan jenis batuan kerap menentukan fungsi dari beliung tersebut, apakah sebagai alat kerja pertanian, benda upacara atau benda pertukaran. Seperti beliung temuan daerah Sukabumi, Jawa Barat ini, dibuat dari batuan kalsedon (jenis batuan semi permata). Proses pembuatan yang sempurna hingga proses pengumpaman (pengasahan) menghasilkan kilau dan memperlihatkan tekstur batuannya yang indah. Ditinjau dari fungsinya, tampak beliung ini tidak digunakan sebagai alat kerja melainkan sebagai benda upacara, bekal kubur dan kemungkinan juga sebagai benda barter.

Kjökkenmodinger


Kerang
Pantai Timur Sumatera
Masa Mesolitik
p. 12,7 cm; l. 8,2 cm; tbl. 3,4 cm
No.Inv. 922

Kjokkenmodinger (bahasa Denmark) adalah sebutan bukit kerang yang disebabkan dari penumpukkan kulit-kulit kerang sebagai limbah makanan komunitas prasejarah di masa Mesolitik. Pada masa mesolitik, berdasarkan rangka manusia yang ditemukan di beberapa wlayah Sumatera diketahui bahwa mereka menetap di gua-gua dekat sungai atau di pesisir pantai. Tempat tinggal mereka ini menjadikan komunitas masa itu mengkonsumsi makanan laut (sea food) dan kerang menjadi makanan utamanya.

Kapak Corong


Perunggu
Bandung, Jawa Barat
Masa Paleometalik
p. 21,2 cm; l. 12,3 cm; tbl. 1,3 cm
No. Inv. 1320 b
Kapak corong ini mempunyai pangkal berbentuk seperti ekor burung sriti yang berrongga ditengahnya, yang digunakan untuk menempatkan gagang. Sedang bagian tajaman terdapat di bagian ujungnya. Dalam pengelompokkan jenis kapak perunggu di Indonesia yang dilakukan oleh Prof. Dr. R.P. Soejono, seorang ahli prasejarah Indonesia, kapak ini dikelompokkan ke dalam tipe II A atau the swallowtail type yaitu kapak yang memiliki bentuk pangkal menyerupai ekor burung sriti. Sehingga seringkali kapak ini disebut “kapak sriti”. Daerah penemuan kapak tipe ini meliputi daerah Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Bali dan Flores. Pada kapak tipe ini biasanya terdapat motif kedok (muka manusia) yang distilir, hias garis, tumpal, dan geometris lainnya. Digunakan sebagai benda upacara dalam upacara religi dan sebagai bekal kubur.

Singapura Menggelar Dua Pameran Arkeologi


Singapura, negara pulau yang boleh dikatakan langka dengan peninggalan-peninggalan arkeologis masa Hindu-Budha, bulan November telah menggelar dua pameran bertema arkeologi. Pertama adalah pameran bertema “On the Nalanda Trail: Buddhism in India, China and Southeast Asia”, diresmikan pada tanggal 1 November oleh Menteri Luar Negeri Singapura, Mr. George Yeo, dan akan berlangsung hingga 23 Maret 2008 selama 5 bulan. Pameran tersebut diselenggarakan di gedung Asian Civilisations Museum.

Tema pameran mengenai peranan Nalanda sebagai satu dari perguruan-perguruan tinggi besar yang pertama di dunia, dalam penyebaran Budhisme dari tempat kelahiran di India hingga ke Cina dan Asia Tenggara. Khususnya yang setia kepada kajian-kajian Budhis, Nalanda memiliki guru-guru yang amat terkenal dan iklim intelektual yang cemerlang sehingga menarik perhatian para penjiarah dan siswa-siswa dari seluruh dunia.

Pameran menampilkan koleksi-koleksi seni Budhis yang dibawa dari India, Cina, dan Asia Tenggara, meliputi arca-arca Budha, Bodhisattva, dewi, dan dewata dari perunggu dan batu. Pada kesempatan ini Museum Nasional Jakarta juga meminjamkan sekitar 10 buah arca perunggu. Dengan ijin khusus dari pemerintah India, pameran juga menampilkan relik-relik tulang dari penemuan arkeologis yang dapat dihubungkan secara langsung dengan sang Buddha itu sendiri.

Yang kedua adalah pameran “Kaala Chakra (Wheel of Time); Early Indian Influences in Southeast Asia”, diresmikan pada tanggal 17 November dan akan berlangsung hingga 16 Mei 2008 selama 6 bulan. Pameran tersebut diselenggarakan di gedung National Library Board, Singapore. Tema pameran berfokus pada pengaruh-pengaruh budaya dan religi demikian juga perdagangan awal dari India Selatan ke Asia Tenggara dan sebaliknya hingga abad ke 13 M. Yang lebih penting adalah menelusuri pengaruh bahasa-bahasa Sansekerta dan Tamil di wilayah ini dan penyebaran agama Hindu dan Budha.

Pameran menampilkan koleksi-koleksi yang pada pokoknya menonjolkan peranan bangsa Tamil di India Selatan, terutama peranan Dinasti Chola, yang berdampak luas di Asia Tenggara pada abad ke-11. Koleksi-koleksi dipinjam dari India, Cina, Thailand, Malaysia, dan Indonesia; Museum Nasional dan Museum Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam dalam hal ini meminjamkan 6 buah koleksi yang berkaitan dengan tema pameran tersebut.

Puncak acara adalah penyelenggaraan konferensi internasional yang bertema “Early Indian Influences in Southeast Asia: Reflections on Cross-Cultural Movements” selama 3 hari, yaitu tanggal 21-23 November 2007. Konferensi Internasional diselenggarakan di Holiday Inn Atrium Hotel, diikuti oleh 52 pemakalah dari berbagai negara yaitu Amerika Serikat, Australia, Belanda, Cina, Filipina, India, Indonesia, Itali, Jepang, Kamboja, Myanmar, Perancis, Singapura, Swiss, Thailand, dan Vietnam. [TRIGANGGA]

Gedung Arca Dibuka Resmi Oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono


Setelah lama menunggu sekitar 11 tahun, akhirnya pembangunan gedung baru Unit B yang disebut dengan Gedung Arca dapat diselesaikan secara keseluruhan, dan pada tanggal 20 Juni 2007 yang lalu telah dibuka resmi oleh Presiden RI Dr. Susilo Bambang Yudhoyono. Mulai tanggal tersebut pengunjung sudah dapat menjelajahi pameran-pameran tetap mulai dari lantai I hingga lantai IV.

Pembangunan gedung Unit B yang dimulai sejak tahun 1996 ini sempat tertunda beberapa tahun dikarenakan krisis moneter yang melanda Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara pada tahun 1997. Gedung yang direncanakan selesai tahun 2001 ini akhirnya dapat disele-saikan secara keseluruhan, bangunan fisik dan tata pamerannya, tahun 2007. Pameran tetap di gedung baru Museum Nasional yang bertema “Keanekaragaman Budaya dalam Kesatuan” tampilannya berbeda dari gedung lama (Unit A). Tema tersebut terdiri dari 4 (seharusnya 5) subtema yaitu [1] Manusia dan Lingkungan, [2] Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Ekonomi, [3] Organisasi Sosial dan Pola Pemukiman [4] Khasanah dan Keramik. Subtema terakhir yaitu [5] Religi dan Kesenian direncanakan setelah gedung unit C dibangun.

Menyertai grand opening ini adalah pameran temporer “Majapahit” yang diselenggarakan selama satu bulan, mengisahkan tentang kebesaran kerajaan Majapahit selama hampir 200 tahun (1292 – 1486), yang diawali dari sebidang tanah hutan yang dibuka oleh Raden Wijaya hingga hampir seluruh kepulauan Indonesia ditambah sebagian wilayah Asia Tenggara yaitu Singapura, Malaysia, dan Filipina.

Pameran Majapahit didukung oleh berbagai pihak seperti Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Direktorat Peninggalan Purbakala, Balai Pelestarian dan Perlindungan Purbakala Jawa Timur, dan lain-lain. Dalam pidato sambutannya, Presiden mengatakan bahwa di era globalisasi saat ini, perubahan berkelanjutan dalam berbagai dimensi kehidupan merupakan suatu keniscayaan.

Dalam kaitan ini, museum dituntut untuk sanggup menjalankan peran lebih dari sekedar tempat penyimpanan benda-benda peninggalan bersejarah, yang mana museum harus mampu berperan sebagai tempat pembelajaran yang tidak saja menampilkan kejayaan dan kebesaran dari peradaban nenek moyang tetapi juga menampilkan keselarasan hidup dengan alam tanpa mengakibatkan kerusakan lingkungan. [TRIGANGGA]

Para Dewa dan Raksasa Berebut Air Kehidupan dari Dalam Samudera


Ternyata menjadi dewa belum ada jaminan dapat hidup abadi. Para dewa masih membutuhkan amerta yaitu ‘air kehidupan’ yang dapat menjadikan siapa pun yang minum air tersebut “kagak ade matinya” alias hidup kekal. Jika mahluk kahyangan saja memerlukan amerta, apalagi mahluk dunia bawah yang dihuni oleh para daitya (raksasa), tentu punya keinginan yang sama, hidup kekal.


Sayangnya, air kehidupan itu tersembunyi di dasar samudra atau lautan dan dijaga oleh sejumlah naga. Untuk mengambilnya, Dewa Brahma memanggil para dewa di puncak Gunung Mahameru untuk ditugaskan mengaduk samudra agar dari pusatnya keluar amerta. Para raksasa, meskipun berperilaku buruk, licik dan jahat juga dilibatkan dalam proyek ‘pengadukan samudra’.

Diceritakan bahwa yang menjadi alat pengaduk adalah Gunung Mandara, diangkut para dewa ke tengah laut. Sebelum dicemplungkan ke dalam samudra Dewa Wisnu menjelma menjadi kura-kura yang sangat besar untuk menjadi alas Gunung Mandara. Sedangkan Dewa Wasuki menjelma menjadi seekor ular yang amat panjang yang melilit Gunung Mandara tadi sebagai tali.

Bagian kepala ular dipegang para raksasa, sedangkan bagian ekornya oleh para dewa. Mereka silih berganti menarik “tali” itu sehingga Gunung Mandara berputar dan samudra pun teraduk. Setelah berbagai peristiwa terjadi dan berbagai benda keluar dari dalam samudra, maka akhirnya keluarlah Dhanwantari yaitu tabib kahyangan yang tangannya menjinjing sebuah guci berisi amerta yang mereka cari. Sialnya Dhanwantari keluar menuju ke arah kepala ular, tak ayal lagi guci amerta pun jatuh ke tangan para raksasa, dan mereka langsung kabur.

Merasa kecolongan, para dewa lalu berupaya merebut guci amerta itu dengan tipu muslihat. Untuk tujuan tersebut Dewa Brahma menjelma menjadi seorang bidadari yang amat cantik. Ia mengunjungi tempat para raksasa yang sedang berpesta pora merayakan kemenangan memperoleh amerta. Sang bidadari menari-nari, menggoda dan merayu para raksasa yang sedang bermabuk-mabukan. Begitu mereka lengah sang bidadari dengan sigap merebut guci amerta dari tangan para raksasa, dan terbang ke kahyangan.

Itulah cuplikan dari kisah amertamanthana atau samudramanthana, suatu kisah yang terdapat di dalam Adiparwa-Mahabharata. Itu adalah cerita yang diambil dari kitab versi India. Cerita ini juga dikenal di negara Asia Tenggara lainnya, seperti Kamboja (Khmer).

Ada lagi cerita “versi Indonesia”nya yang terdapat dalam kitab Tantu Panggelaran; inti ceritanya adalah tentang pemindahan Gunung Mahameru dari India ke pulau Jawa. Ceritanya, ketika itu pulau Jawa masih dalam keadaan belum tetap kedudukannya karena terombang-ambing oleh gelombang laut. Agar pulau Jawa tetap berada di tempatnya, Bhatara Guru memerintahkan para dewa dan raksasa memindahkan Gunung Mahameru dari India ke pulau Jawa sebagai alat pemberat. Dengan susah payah mereka berhasil memotong bagian atas Gunung Mahameru.

Tetapi kemudian timbul masalah untuk mengangkutnya ke pulau Jawa. Untuk itu Dewa Wisnu menjelma menjadi seekor kura-kura besar dan puncak Gunung Mahameru diletakkan di atas punggungnya. Dewa Brahma menjelma menjadi ular yang panjang dan melilit gunung itu sebagai tali. Dengan cara menarik “tali” itu, puncak Gunung Mahameru berhasil dibawa ke pulau Jawa.

Begitu sampai, mula-mula gunung itu diletakkan di bagian barat pulau, tetapi ternyata malah mencuat dan miring ke arah barat. Oleh karena itu mereka membawanya lagi menuju ke timur. Selama perjalanan bagian-bagian gunung itu berceceran dan menjadi deretan gunung-gunung di pulau Jawa, untuk akhirnya sisanya diletakkan di bagian timur dan menjadi Gunung Semeru sekarang.

Adegan cerita tersebut dapat dilihat pada sebuah batu relief tiga dimensi yang sekarang disimpan di Museum Nasional (no.inv. 383a/4385). Batu relief ini ditemukan di Sirahkencong, Wlingi, Blitar, Jawa Timur, dibuat sekitar abad ke-13 – 14 Masehi.

Secara fisik, batu relief ini menggambarkan seekor kura-kura berada di atas bantalan bunga teratai, menyangga replika gunung pada punggungnya. Gunung dililit oleh seekor ular yang kepalanya hilang sebagian. Di sebelah kiri dan kanan kepala ular tampak para raksasa dan dewa memegang tubuhnya. Di dekat puncak gunung terdapat relief tumbuhan dan binatang (kuda bersayap dan kancil). Puncaknya berupa empat bulatan dengan satu bulatan di tengah. Di tengah bulatan inilah terdapat lubang yang ternyata tembus sampai ke bawah, dan berakhir sampai ke belakang dekat ekor kura-kura. Diduga batu ini bagian dari pancuran yang mengalirkan air dari pegunungan ke bangunan suci atau pemandian. [TRIGANGGA]

Jumat, 08 Mei 2009

Dewi Ratih Ditelan Kala Rau pada 19 Maret 843


Syahdan, ketika para dewa berhasil merebut guci berisi air kehidupan (amerta) dari tangan para raksasa pada waktu pengadukan lautan susu (samudramanthana), berpesta poralah mereka minum air kehidupan. Tetapi diam-diam seorang raksasa, Kala Rau, ikut berbaur di antara para dewa hendak mencicipi air kehidupan. Ulahnya ini segera diketahui oleh Dewi Ratih yang kemudian memberitahu Dewa Wisnu.

Dengan cepat Dewa Wisnu menarik busur dengan anak panah diarahkan ke leher Kala Rau. Anak panah melesat mengenai leher Kala Rau dan putus seketika. Badan raksasa ambruk ke bumi, namun kepalanya yang sempat menenggak air kehidupan melayang ke angkasa. Kepala yang hidup itulah yang kemudian marah dan setiap saat meneror ingin menelan Dewi Ratih, dewi bulan, sehingga terjadi gerhana.

Untuk mengalihkan perhatian Kala Rau, masyarakat Bali memuku-mukul kentongan agar ia mengurungkan niatnya menelan dewi bulan. Kalaupun dewi bulan berhasil ditelan oleh Kala Rau, tentunya ia akan keluar lagi melalui leher yang putus itu.

Gerhana Bulan dan Matahari terjadi karena perpotongan antara orbit Bulan dan lintasan Matahari (dari sudut pandang geosentris) yang menghasilkan dua titik simpul, N1 dan N2. Kedua titik simpul inilah yang dalam astronomi Hindu disebut “planet” Rahu (simpul atas) dan Ketu (simpul bawah).

Itulah cuplikan kisah tentang terjadinya gerhana, khususnya gerhana bulan, yang masih diyakini masyarakat Hindu di Jawa dan Bali. Rau atau Rahu menurut astronomi Hindu adalah salah satu “planet” hasil perpotongan orbit bulan dan ekliptika (lintasan matahari).

Menurut astronomi Hindu ada sembilan planet (nawagraha) yang mengelilingi Bumi (faham geosentris), yaitu Aditya (Matahari), Candra (Bulan), Manggala (Mars), Budha (Merkurius), Brhaspati (Yupiter), Sukra (Venus), Sani (Saturnus), Rahu (simpul atas), dan Ketu (simpul bawah). Urutan nam-nama planet, kecuali Rahu dan Ketu, diadopsi menjadi nam-nama hari dalam pekan tujuh hari (saptawara), yaitu Aditya (Minggu), Candra atau Soma (Senin), Manggala atau Anggara (Selasa), Budha (Rabu), Brhaspati atau Guru (Kamis), Sukra (Jumat), Sani atau Sanescara (Sabtu).

Prasasti sebagai salah satu sumber sejarah yang penting tidak hanya mengungkapkan peristiwa-peristiwa politik, ekonomi, religi dan kehidupan masyarakat masa lalu, melainkan juga menyingkap pengetahuan-pengetahuan lain, salah satunya pengetahuan astronomi. Pengetahuan ini terungkap dari bagian prasasti yang menyebutkan titimangsa atau pertanggalan.

Dari unsur-unsur penang-galan itu tersingkap bahwa pengetahuan astronomi masyarakat Indonesia yang menganut agama Hindu dan Budha mengikuti faham geosentris, model astronomi kuno yang juga dianut ahli perbintangan bangsa India, juga bangsa-bangsa Eropa. Faham geosentris menempatkan Bumi sebagai titik sentral atau pusat dari alam semesta, semua benda langit termasuk matahari dan bintang-bintang mengelilingi Bumi.

Faham geosentris mulai ditinggalkan ketika Nicolaus Copernicus (1473-1543) mengajukan gagasan bahwa Matahari adalah salah satu bintang yang dikelilingi oleh planet-planet (Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus) dengan masin-masing satelit (bulan) yang mengelilingi planet induknya, disebut faham heliosentris atau sistem Tata Surya. Disadari juga bahwa Matahari merupakan bagian dari gugus bintang yang dikenal sebagai galaksi Bima Sakti (Milky Way). Inilah tonggak terpenting dalam pengetahuan astronomi moderen.

Prasasti Sucen I adalah sebuah prasasti yang dipahatkan pada bagian dalam payung perak yang berdiameter 30,8 cm. Puncak payung dihiasi batu kristal berbentuk lonjong dan dibalut dengan lembaran emas. Artefak ini ditemukan di desa Sucen, kecamatan Kandangan, kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, dan hingga sekarang masih tersimpan di Museum Nasional Jakarta (nomor inventaris 3331/ 685a/A204. Yang menarik dari isi prasasti adalah bagian titimangsa yang menyebutkan bahwa payung perak ini dibuat pada saat “gerhana Bulan” (candragrahana) tahun Saka 765 bulan Caitra (= 19 Maret 843). Inilah fenomena astronomis pertama di Indonesia yang pernah disebutkan dalam prasasti.

Gerhana adalah peristiwa terhalangnya benda angkasa oleh bayangan benda angkasa lain, khususnya antara Matahari, planet, dan satelit planet (bulan). Gerhana Bulan, juga gerhana Matahari, adalah fenomena astronomis biasa yang terjadi setiap tahun. Gerhana Bulan terjadi pada saat bulan purnama (full moon), yaitu pada tanggal 14-15 menurut kalender Hijrah (Islam), atau tanggal 15 paro terang (pancadasi suklapaksa) menurut kalender Saka (Hindu). Sedangkan gerhana Matahari terjadi pada saat bulan baru (new moon), yaitu pada tanggal 29-30 menurut kalender Hijrah, atau tanggal 15 paro gelap (pancadasi krĕsnapaksa) menurut kalender Saka.

Dalam setahun maksimal terjadi gerhana bulan adalah 3 kali, sedangkan gerhana matahari maksimal 4 kali. Mengapa demikian? Karena bidang edar Bulan membentuk sudut sebesar 5º 9´ terhadap bidang edar Matahari. Seandainya bidang edar Bulan dan bidang edar Matahari adalah 0º maka gerhana Bulan dan Matahari rutin terjadi setiap bulan pada tanggal-tanggal tersebut.

Pada saat terjadi gerhana Bulan, Bulan akan memasuki dua bayangan Bumi yaitu penumbra (bayangan tambahan) dan umbra (bayangan inti). Ketika memasuki penumbra Bumi, cahaya Bulan akan tampak redup kemerahan, dan ketika masuk umbra Bumi keadaan Bulan benar-benar gelap total, hingga keluar lagi dari bayangan inti dan tambahan. Seluruh proses tersebut dilalui dalam waktu ± 5 jam. Oleh karena bidang edar Bulan miring terhadap bidang edar Matahari maka dalam setahun ada tiga kemungkinan terjadi gerhana Bulan, yaitu gerhana Bulan penumbral, gerhana Bulan parsial (sebagian), dan gerhana Bulan umbral (total).

Dalam kasus prasasti Sucen I tersebut, gerhana Bulan yang terjadi adalah gerhana Bulan total. Kontak pertama dengan penumbra Bumi terjadi pada hari Selasa tanggal 20 Maret 843 pukul 0:17 waktu Jakarta (tetapi menurut kalender Saka masih terhitung hari Senin tanggal 19 Maret karena pergantian hari baru terjadi saat matahari terbit sekitar pukul 6 pagi). Pukul 02:22 Bulan sudah memasuki umbra Bumi yang menandai gerhana Bulan total, hingga mencapai puncaknya pada pukul 02:56. Gerhana Bulan total baru berakhir setelah Bulan meninggalkan umbra dan penumbra Bumi pada pukul 05:28 pagi. Seluruh proses tersebut dilalui dalam waktu 5 jam 11 menit.

Demikianlah peristiwa gerhana Bulan total dalam prasasti Sucen I, sebuah peristiwa langka yang disaksikan oleh si penulis prasasti bernama Dang Hyang Guru dan mengabadikannya pada sebuah payung perak yang hendak dipersembahkan kepada dewa di Sima, pada hari Senin tanggal 19 Maret 843. Gerhana Bulan total terakhir tahun ini (2007) terjadi pada tanggal 28 Agustus, dan dapat disaksikan di Indonesia khususnya wilayah Indonesia Bagian Timur (WIT). Untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya (WIB) puncak gerhana Bulan total terjadi pada pukul 18:07. [TRIGANGGA]